Jika kita melihat fakta di lapangan, pembangunan infrastruktur balap di Papua memang mengalami kemajuan yang sangat signifikan. Salah satu bukti nyatanya adalah keberadaan sirkuit-sirkuit baru yang dibangun dengan standar teknis modern. Di beberapa titik strategis, aspal yang digunakan bukan lagi aspal biasa, melainkan material berkualitas tinggi yang memiliki daya cengkeram optimal untuk kendaraan performa tinggi. Hal ini kontras dengan kondisi satu dekade lalu, di mana para pembalap lokal harus puas dengan lahan seadanya atau jalanan umum yang berbahaya. Transformasi ini menunjukkan bahwa komitmen pemerintah daerah dan organisasi otomotif dalam meningkatkan kelas dunia balap Papua tidak main-main.
Namun, untuk mengatakan sudah sepenuhnya setara Jakarta, kita perlu melihat dari berbagai sudut pandang. Jakarta memiliki keunggulan pada aspek integrasi fasilitas pendukung seperti jumlah bengkel performa yang masif, akses suku cadang yang instan, dan frekuensi event yang hampir terjadi setiap minggu. Di sisi lain, Papua memiliki keunggulan pada sirkuit-sirkuit baru yang secara desain lebih mengikuti tren terkini dan didukung oleh lanskap alam yang memukau. Fasilitas paddock, sistem pencahayaan untuk balap malam, hingga tribun penonton di beberapa sirkuit di Papua sudah mengadopsi teknologi digital yang sangat modern, sesuatu yang mungkin di Jakarta sendiri masih terbatas pada sirkuit-sirkuit tertentu saja.
Peran organisasi dalam mengelola IMI di wilayah paling timur ini juga menjadi kunci utama. Mereka tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada manajemen event yang profesional. Standar keamanan atau safety standar yang diterapkan dalam setiap kejuaraan di Papua kini sudah merujuk pada regulasi nasional yang ketat. Hal ini membuat para pembalap dari luar daerah, termasuk dari Jakarta, mulai melirik Papua sebagai destinasi kompetisi yang bergengsi. Ketika pembalap nasional mulai merasa nyaman berlaga di Jayapura atau Merauke, itu adalah indikator kuat bahwa kualitas infrastruktur balap yang tersedia memang sudah berada di level yang sangat tinggi.
Tantangan terbesar bagi Papua untuk benar-benar melampaui Jakarta adalah masalah biaya logistik. Membawa kendaraan balap dari luar pulau menuju Papua masih membutuhkan biaya yang cukup besar. Oleh karena itu, infrastruktur yang hebat di sana harus didukung dengan ekosistem industri otomotif lokal yang mandiri. Pertumbuhan toko aksesori, bengkel spesialis, hingga sekolah balap di Papua harus seiring sejalan dengan kemegahan sirkuitnya. Jika ekosistem ini terbentuk, maka tidak menutup kemungkinan Papua akan menjadi pusat baru otomotif di Indonesia Timur yang bahkan bisa lebih sibuk dibandingkan Jakarta dalam beberapa tahun ke depan.