Debat mengenai masa depan transportasi listrik seringkali mempertentangkan dua teknologi nol emisi utama: Kendaraan Listrik Baterai (Battery Electric Vehicles atau BEV) dan Kendaraan Listrik Sel Bahan Bakar (Fuel Cell Electric Vehicles atau FCEV). Untuk menentukan mana yang akan mendominasi pasar jangka panjang, diperlukan Analisis Biaya yang mendalam, mencakup biaya pembelian, operasional, infrastruktur, dan nilai sisa kendaraan. Analisis Biaya ini menunjukkan bahwa meskipun BEV saat ini unggul di pasar konsumen, FCEV memiliki potensi efisiensi yang lebih baik, terutama untuk segmen yang membutuhkan kepadatan energi tinggi dan waktu refueling yang cepat. Keputusan investasi dalam salah satu teknologi ini akan membentuk infrastruktur energi dan transportasi selama beberapa dekade mendatang.
Dari segi biaya awal (pembelian), BEV saat ini memiliki keunggulan, meskipun FCEV mulai mengejar. Biaya produksi fuel cell stack dan tangki hidrogen bertekanan tinggi 700 bar masih mahal karena penggunaan bahan katalis mahal seperti platinum dan proses manufaktur yang kompleks. Namun, Analisis Biaya total kepemilikan (Total Cost of Ownership atau TCO) adalah faktor yang lebih penting. TCO mencakup depresiasi, pemeliharaan, dan biaya bahan bakar/energi.
Di sisi operasional, biaya pengisian ulang masih menjadi perdebatan. Mengisi daya listrik BEV, terutama di rumah atau stasiun publik dengan harga tarif rendah, umumnya lebih murah per kilometer dibandingkan membeli hidrogen per kilogram. Meskipun demikian, FCEV memiliki keunggulan signifikan dalam hal waktu pengisian dan jarak tempuh. FCEV dapat mencapai 500−700 km per tangki dengan waktu pengisian 3−5 menit, menjadikannya kompetitif dalam efisiensi waktu. Keunggulan waktu ini diterjemahkan menjadi efisiensi operasional yang lebih tinggi untuk armada komersial (truk, bus, dan taksi) yang beroperasi secara intensif. Sebuah studi dari Lembaga Riset Transportasi Regional pada bulan November 2024 menunjukkan bahwa truk hidrogen dapat memiliki TCO yang lebih rendah daripada truk listrik baterai di jalur logistik jarak jauh, di mana downtime pengisian daya sangat mahal.
Tantangan biaya terbesar bagi hidrogen adalah infrastruktur. Pembangunan stasiun pengisian hidrogen (Hydrogen Refueling Stations atau HRS) menelan biaya puluhan juta dolar per unit, jauh lebih mahal daripada stasiun pengisian BEV. Kepadatan infrastruktur yang rendah ini menghambat adopsi massal FCEV. Sebaliknya, infrastruktur BEV (stasiun pengisian) memanfaatkan jaringan listrik yang sudah ada. Meskipun demikian, seiring dengan meningkatnya produksi green hydrogen (hidrogen yang diproduksi dari energi terbarukan) dan standardisasi teknologi fuel cell yang didukung kebijakan pemerintah (seperti pengurangan pajak untuk teknologi nol emisi), biaya per kilogram hidrogen diperkirakan akan turun, mengubah Analisis Biaya jangka panjang. FCEV tetap merupakan pilihan yang valid dan efisien untuk kebutuhan mobilitas berat dan jarak jauh, melengkapi BEV yang unggul di pasar mobil penumpang.