Pergeseran industri otomotif global menuju elektrifikasi membawa pertanyaan krusial mengenai durabilitas dan keandalan sistem propulsi baru. Kendaraan listrik murni (Electric Vehicle/EV) dan hybrid (yang menggabungkan motor listrik dan mesin pembakaran internal/ICE) menawarkan efisiensi dan performa yang superior. Namun, dari segi ketahanan jangka panjang, pertanyaannya adalah: apakah Mesin Hybrid dan Listrik lebih tahan banting dibandingkan mesin bensin atau diesel konvensional? Jawaban atas pertanyaan ini terletak pada kompleksitas sistem, jumlah komponen bergerak, dan manajemen termal baterai. Analisis mendalam menunjukkan bahwa meskipun memiliki tantangan baru, teknologi ini menawarkan keunggulan durabilitas yang signifikan.
Keunggulan utama Mesin Hybrid dan Listrik murni terletak pada motor listriknya. Motor listrik memiliki desain yang secara inheren lebih sederhana daripada mesin ICE, karena hanya memiliki satu komponen bergerak utama—yaitu rotor. Tidak ada busi, piston, katup, atau sistem knalpot, yang berarti potensi kegagalan mekanis akibat gesekan dan keausan jauh lebih kecil. Kendaraan listrik murni (EV) meniadakan komponen mesin yang paling rentan, sehingga secara teoritis, motor listrik akan bertahan jauh lebih lama daripada mesin ICE. Dalam uji coba yang dilakukan oleh otoritas pengujian kendaraan di fasilitas riset pada hari Kamis, 28 November 2024, motor listrik EV dapat mempertahankan efisiensi $95\%$ setelah simulasi jarak tempuh 400.000 kilometer, menunjukkan ketahanan yang luar biasa.
Untuk Mesin Hybrid dan Listrik yang masih menggunakan ICE, durabilitasnya meningkat karena mesin bensinnya tidak bekerja terus-menerus. Dalam kondisi stop-and-go di perkotaan atau saat cruising di kecepatan rendah, mobil hybrid sering kali menggunakan mode listrik murni. Ini mengurangi jam kerja, start-stop yang keras, dan beban termal pada mesin ICE-nya, yang secara langsung memperpanjang usia komponen mesin tersebut. Namun, tantangan terbesarnya adalah baterai. Baterai lithium-ion, sebagai jantung dari kedua jenis teknologi ini, rentan terhadap degradasi kapasitas dari waktu ke waktu, terutama jika terpapar suhu operasional yang ekstrem (terlalu panas atau terlalu dingin).
Pabrikan mengatasi degradasi ini melalui sistem manajemen termal baterai yang canggih (pendinginan cairan atau udara) untuk memastikan baterai tetap beroperasi dalam rentang suhu ideal, sehingga Mesin Hybrid dan Listrik dapat menjaga usia pakainya. Data garansi resmi pabrikan menunjukkan bahwa baterai hybrid dan EV umumnya memiliki garansi hingga delapan tahun atau 160.000 kilometer, dengan jaminan kapasitas baterai tidak akan turun di bawah $70\%$ dari kondisi awal. Ini memberikan jaminan jangka panjang bagi konsumen. Secara keseluruhan, meskipun hybrid menambahkan kompleksitas (dua sistem penggerak), durabilitas jangka panjang dari motor listrik dan ICE yang lebih jarang digunakan menjadikan teknologi ini pesaing serius dalam hal ketahanan dibandingkan versi konvensional.