Dinamika pembinaan olahraga di daerah sering kali dihadapkan pada keterbatasan anggaran, namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat para pengurus dan atlet otomotif di Indonesia Timur. Perjuangan IMI Papua di Pra-PON dengan menggunakan dana sendiri menjadi bukti nyata dedikasi, kemandirian, dan kecintaan yang mendalam terhadap dunia balap motor. Mampu melangkah ke panggung kualifikasi Pekan Olahraga Nasional di tengah keterbatasan finansial menunjukkan mentalitas pantang menyerah yang patut mendapat apresiasi tinggi dari insan olahraga nasional.
Keputusan untuk memberangkatkan kontingen dengan swadaya mandiri diambil demi menjaga asa dan kesempatan para atlet yang telah berlatih keras selama bertahun-tahun. Pengurus daerah, pelatih, hingga keluarga atlet saling bahu-membahu mengumpulkan sumber daya mandiri guna membiayai tiket transportasi, akomodasi, hingga sewa peralatan balap di lokasi pertandingan. Langkah berani ini diambil agar potensi serta bakat para pembalap muda Papua tidak terbuang sia-sia akibat kendala administratif maupun keterlambatan pencairan dana hibah.
Keterbatasan anggaran justru menempa kebersamaan dan mental bertanding para atlet saat berlaga di lintasan sirkuit. Tanpa dukungan fasilitas mewah, para pembalap tetap mampu tampil maksimal dan bersaing ketat dengan kontingen dari provinsi lain yang memiliki dukungan finansial melimpah. Fokus utama para atlet diarahkan sepenuhnya pada konsistensi putaran lap, ketepatan teknik pengereman, serta ketahanan fisik demi mengamankan tiket kelulusan menuju putaran final PON.
Perjuangan mandiri ini juga membuka mata banyak pihak akan pentingnya perhatian serta tata kelola pembiayaan olahraga yang lebih responsif di daerah. Kehadiran sponsor swasta dan kepedulian komunitas otomotif lokal menjadi pilar pendukung penting yang membantu meringankan beban operasional tim selama kejuaraan berlangsung. Semangat swadaya yang ditunjukkan oleh kontingen Papua menjadi sumber inspirasi bagi daerah lain dalam menghadapi situasi darurat pembiayaan olahraga.
Evaluasi dan dokumentasi atas seluruh perjuangan ini dijadikan catatan penting untuk pembenahan sistem pembinaan IMI Papua di masa mendatang. Pengorbanan materiil dan tenaga yang telah dikeluarkan menjadi fondasi moral yang kuat bagi para atlet untuk terus berprestasi dan membuktikan kapasitas terbaik mereka di level nasional.
Melalui perjuangan IMI Papua di Pra-PON dengan menggunakan dana sendiri, terbukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk mengukir prestasi di arena balap. Semangat juang dan pengorbanan para atlet menjadi bukti nyata bahwa loyalitas terhadap olahraga otomotif mampu menembus segala keterbatasan yang ada.